Ikatlah
ilmu dengan menuliskannya..
Pernah
mendengar tentang budaya intelektual kan? Yaa, budaya intelektual itu ada tiga
yaitu membaca, menulis, dan berdiskusi. Membaca saja tidak cukup. Bacaan hanya
melintas saja di pikiran kalau tidak benar-benar dipahami dan diambil pelajaran
darinya. Jadi, untuk membuat bacaan bisa lebih tahan lama dan melekat dalam
ingatan kita, maka perlu ada upaya untuk mengikat bacaan tadi dalam sebuah
tulisan. Tulisan sesuai dengan gaya bahasa kita masing-masing agar mudah
dipahami dan diingat.
Ikatlah
ilmu dengan menuliskannya..
Tulisan
dapat menjadi arsip sejarah. Sejarah tentang perjalanan hidup kita. Saat kita
senang, sedih, bertingkah konyol, galau, empaty, dll. Sejarah merupakan aset penting
sebagai bahan evaluasi kita untuk menghadapi masa depan. Sejarah bisa saja
diceritakan, namun kelemahannya adalah akan ada banyak bumbu-bumbu yang
ditambahkan. Dengan menulisnya, maka sejarah akan dapat dibaca berulang-ulang
bahkan oleh seseorang yang tidak hidup pada zaman terjadinya peristiwa
tersebut.
Ikatlah
ilmu dengan menuliskannya..
Menuliskan
harapan masa depan sejak saat ini, tidak ada salahnya bukan? Itu adalah
cita-cita yang ingin kita capai. Sebuah perencanaan dalam jangka panjang yang
ingin kita gapai. Sebuah angan-angan yang entah kapan kita bisa mewujudkannya.
Sebuah pemikiran untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.
Ikatlah
ilmu dengan menuliskannya..
Susahnya
mencari ide, itulah yang seringkali kita jumpai saat memulai untuk menulis. Ide
seringkali datang secara tiba-tiba tanpa memberitahu kita. Nah, saat ide itu
muncul, ikatlah.. tulislah diatas kertas, jangan diawang-awang.
Ikatlah
ilmu dengan menuliskannya..
Saat
memulai untuk menulis, huruf-huruf itu menari di pikiran saya. Mencari-cari
pasangannya secara tepat agar terbentuk kalimat yang sempurna. Menulis bagi
orang yang sulit memahami makna kalimat secara utuh saat membaca, merupakan
suatu tantangan yang tidak mudah. Sempat saya menyerah untuk menulis, karena
begitu susahnya untuk memulai menulis. Huruf-huruf itu terus berputar di kepala
saya. Tak menemukan padanan kata yang klop. Akhirnya, saya mulai membaca
banyak tulisan, mengidentifikasi beberapa jenis tulisan, dan mencoba membuat
suatu tulisan. Dan sekarang, saya ketagihan untuk menulis dan menulis. Jikalau
ditanya, tulisan saya memang jauh dari sempurna, bahkan masih perlu banyak
belajar dan berlatih agar tulisan saya layak untuk dipublikasikan.
Ikatlah
ilmu dengan menuliskannya..
Menulislah
hal-hal yang bermanfaat. Hadirkan ruh kita saat membuat sebuah tulisan agar
tulisan kita lebih hidup (meski saya belum bisa melakukan hal itu..:D).
Menulis.. dan menulislah.. karena menulis merupakan perintah setelah membaca.
Menulis dapat menjadi salah satu media untuk meyebarluaskan kebaikan tanpa
mengenal batas dimensi tempat dan waktu. Menulislah untuk menaklukkan dunia
seperti yang telah dilakukan para ulama dan tokoh-tokoh Islam terdahulu yang
karya-karyanya mampu menggemparkan dunia.
Ikatlah
ilmu dengan menuliskannya..
Dalam sebuah buku dikatakan bahwa untuk menjadi
seorang pemenang (penulis populer.red) tak selalu mendapat piala, uang, apalagi
kekuasaan. Menjadi juara sejati adalah kesuksesan yang berawal dari proses
panjang dan melelahkan. Kesuksesan sejati itu bukan kesuksesan yang bermanfaat
bagi diri kita sendiri, namun apa yang kita hasilkan pun yang kita usahakan
haruslah mermanfaat bagi orang lain. Setia dan menikmati setiap proses yang
dilalui, mengambil manfaat dan senantiasa mengevaluasi pada apa yang dirasa
kurang pas, bukan fokus pada pencapaian hasil. Berfikir positif tentang segala
sesuatu yang kita hadapi, seringkali membuat segala sesuatu menjadi tak sesulit
yang diduga oleh kebanyakan orang. Karena segala sesuatu itu bisa berubah
“Sungguh akan kamu jalani tingkatan demi tingkatan dalam kehidupan” (Al
Insyiqoq : 19). Dan kita bisa mengubah segala sesuatu itu (dalam konteks yang
dapat dijangkau oleh kemapuan manusia), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah
keadaan suatu kaum sebelum mereka menggubah keadaan diri mereka sendiri” (Ar
Ra’ad : 11). Nah sudah jelas kan? Apa yang diragukan lagi?
Itulah
pesan Ali bin Abi Tholib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..”
Mencobalah selama ada kesempatan,, menulislah
–sesekali tuangkan pikiranmu lewat
tulisan.. karena dengan menulis, kamu bisa terbang tinggi, setinggi
anganmu..



