Kamis, 07 Juni 2012

Meneladani Kisah Mush'ab bin Umair (bekal menjalani hari-hari KKP)


Wah,, sudah memasuki bulan Juni nhe.. Itu artinya, waktu KKP sudah semakin dekat. Pastinya temen-temen pada g’sabar dong pengen cepet-cepet berada di tempat KKP masing-masing. Nah, dengan semakin dekatnya waktu, harusnya persiapan kita juga semakin mantab, mulai dari persiapan program-program yang akan kita jalankan di tempat KKP maupun persiapan mental untuk menghadapi lingkungan yang baru. Untuk itu, kami dari FKRD ingin sedikit berbagi tentang taujih Ust. Munif pada tanggal 31 Mei 2012 yang lalu dalam “Pembekalan KKP”. Let’s check this out..!!
***
Menghadapi lingkungan yang baru, mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang tidak mudah. Apalagi kalau budaya pada lingkungan tersebut sangat berbeda dengan budaya di lingkungan tempat kita tinggal. Untuk itu, mari sejenak kita meneladani kisah Mush’ab bin Umair, beliau adalah “Duta Islam yang Pertama”. Mush’ab bin Umair lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Pribadinya baik, wajahnya sangat rupawan, cerdas dan penuh semangat kemudaan. Tak heran bila ia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah pada saat itu.
Suatu hari, Mush’ab bin Umair mendengar berita kedatangan Rosulullah dengan agama yang dibawanya, Mush’ab penasaran dan tertarik mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rosulullah. Pada suatu senja, Mush’ab bin Umair terdorong untuk pergi ke rumah Arqom bin Abil Arqom, tempat Rosulullah berkumpul bersama para sahabat dan mempelajari Al-Quran. Baru saja Mush’ab bin Umair mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Qur’an mulai mengalir dari kalbu Rosulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu pula, Mush’ab terpesona oleh untaian kalimat Rosulullah yang tepat menemui sasaran kalbunya, sehingga ia memutuskan untuk memeluk agama yang dibawa oleh Rosulullah saw. Sejak saat itu, ia meninggalkan kemewahan dan kesenangan duniawai dan memilih hidup dalam kesederhanaan. Pemuda ganteng dan pertele itu kini menjadi seorang yang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar. Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan aqidah yang suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi telah merubah dirinya menjadi pribadi yang baru, yaitu pribadi yang dihormati, penuh wibawa dan disegani. Tak lama kemudian, Rosulullah pun memilihnya untuk melakukan suatu tugas yang mulia saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rosulullah ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk agama kepada orang-orang anshar yang telah beriman. Di samping itu, ia juga mengajak orang-orang lain untuk beribadah kepada Allah serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrotul rosul sebagai peristiwa besar.
Mush’ab menjalankan amanah tersebut dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka beuduyun-duyun masuk Islam. Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush'ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rosulullah saw atas dirinya itu pilihan yang tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. la sadar bahwa tugasnya adalah  menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rosulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.
Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Dengan didampingi As'ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris membuatnya celaka. Namun, ia selamat karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwa yang dikaruniakan Allah kepadanya.
Suatu hari, ketika ia sedang memberikan taujih kepada masyarakat Madinah, tiba-tiba dipergoki oleh Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush'ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush'ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka. Melihat kedatangan dan sikap Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush'ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi "Mush'ab yang baik" tetap tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zararah, bentaknya: "Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!". Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati "Mush'ab yang baik", dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: "Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!". Sebenamya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush'ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri, yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush'ab, dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain. "Sekarang saya insaf", ujar Usaid, lalu ia menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Setelah Mush'ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan menguraikan da'wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada shahabatnya: "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang baru dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?" Maka sebagai jawabannya, gemuruhlah suara tahlil serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush'ab: "Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah".
Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah. Secepatnya berita itu pun trsebar luas. Masuk Islamnya Usaid pun disusul oleh kehadiran Sa'ad bin Mu'adz. Dan setelah mendengar uraian Mush'ab, Sa'ad merasa puas dan masuk Islam pula. Langkah ini disusul pula oleh Sa'ad bin 'Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: "Jika Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin 'Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu, ayolah kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!".
Demikianlah duta Rosulullah yang pertama (Mush’ab bin Umair) telah mencapai hasil gemilang yang tiada  tara, suatu  keberhasilan  yang memang wajar dan layak diperolehnya. Beberapa ibroh yang dapat kita ambil dari kisah Mush’ab bin Umair adalah:
  • Mush’ab bin Umair berhasil melunakkan hati penduduk Madinah dengan berbekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur, juga sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati. 
  • Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Untuk menjalin hubungan yang baik dan keakraban dengan penduduk Madinah, ia didampingi oleh As’ad pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, dan membacakan ayat Al-Qur’an.
  • Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri selama berada di negri orang (Madinah) yang nyaris membuatnya celaka. Namun, ia selamat karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwa yang Allah karuniakan kepadanya.
  • Mush’ab bin Umair senantiasa berbicara dengan kata-kata yang baik dan bersikap dengan baik pula saat ia berada di negri orang (Madinah).
  • Ia berhasil menyelesaikan selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah dengan masuknya Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin 'Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz ke dalam agama Islam.
***
Semoga setelah membaca kisah tadi, kita bisa meneladani sifat dan sikap Mush’ab bin Umair saat berbaur dengan masyarakat Madinah agar dapat diaplikasikan dalam menjalani hari-hari di daerah KKP masing-masing. Nah, teman-teman, ada dua modal penting yang harus kita siapkan untuk menjalani KKP. Dua modal penting tersebut adalah kapasitas keilmuan dan kemampuan komunikasi.
  • Kapasitas keilmuan
Kapasitas keilmuan yang kita miliki tidak hanya menunjukkan bahwa kita adalah orang yang berilmu (intelek). Namun, kapasitas keilmuan tersebut hendaknya dapat menjadikan kita sebagai problem solver dalam suatu desa tempat kita melaksanakan KKP. Oleh karena itu, program-program yang akan kita laksanakan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
  • Kemampuan komunikasi
Kemampuan berkomunikasi yang baik perlu kita bangun dari sekarang, berbicara yang sopan dan tidak terkesan menggurui. Komunikasi itu ada dua yaitu komunikasi dengan Allah dan komunikasi dengan manusia. Komunikasi dengan Allah dapat melatih kesabaran kita. Bila komunikasi dengan Allah telah terjalin dengan baik, maka secara otomatis komunikasi kita dengan masyarakat akan baik pula. Perbanyak ibadah di tempat KKP, memanfaatkan masjid untuk melaksanakan sholat 5 waktu, dengan begitu kita bisa berkomunikasi lebih dekat dengan masyarakat. Selain itu, kita juga perlu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat, seperti yang dilakukan mush’ab bin Umair yaitu dengan bersilaturrahim ke rumah-rumah warga. Namun yang perlu diingat adalah sebisa mungkin kita hindari komunikasi tentang masalah-masalah yang sensitif yang dapat mengundang konflik misalnya tentang masalah kepartaian atau masalah-masalah internal desa tersebut. Sebagai mahasiswa hendaknya berbicara tentang masalah keilmuan, profesional, dan tidak mengundang konflik. Terakhir, sampaikan maksud dan tujuan kedatangan kita dengan sikap yang baik. Berikan kesan pertama yang indah agar kita dapat dipercaya oleh masyarakat sekitar.

Selamat ber-KKP.. KKP? Hadapi, Hayati, Nikmati..!

0 komentar:

Posting Komentar

 

af-ida Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez