Wah,, sudah memasuki bulan Juni nhe..
Itu artinya, waktu KKP sudah semakin dekat. Pastinya temen-temen pada g’sabar dong
pengen cepet-cepet berada di tempat KKP masing-masing. Nah, dengan semakin
dekatnya waktu, harusnya persiapan kita juga semakin mantab, mulai dari
persiapan program-program yang akan kita jalankan di tempat KKP maupun
persiapan mental untuk menghadapi lingkungan yang baru. Untuk itu, kami dari
FKRD ingin sedikit berbagi tentang taujih Ust. Munif pada tanggal 31 Mei 2012
yang lalu dalam “Pembekalan KKP”. Let’s check this out..!!
***
Menghadapi lingkungan yang baru, mungkin bagi
sebagian orang merupakan hal yang tidak mudah. Apalagi kalau budaya pada
lingkungan tersebut sangat berbeda dengan budaya di lingkungan tempat kita
tinggal. Untuk itu, mari sejenak kita meneladani kisah Mush’ab bin Umair,
beliau adalah “Duta Islam yang Pertama”. Mush’ab bin Umair lahir dan dibesarkan
dalam keluarga yang berkecukupan. Pribadinya baik, wajahnya sangat rupawan, cerdas
dan penuh semangat kemudaan. Tak heran bila ia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah
pada saat itu.
Suatu hari, Mush’ab bin Umair mendengar berita kedatangan Rosulullah dengan
agama yang dibawanya, Mush’ab penasaran dan tertarik mengikuti ajaran yang
dibawa oleh Rosulullah. Pada suatu senja, Mush’ab bin Umair terdorong untuk pergi
ke rumah Arqom bin Abil Arqom, tempat Rosulullah berkumpul bersama para sahabat
dan mempelajari Al-Quran. Baru saja Mush’ab bin Umair mengambil tempat
duduknya, ayat-ayat Al-Qur’an mulai mengalir dari kalbu Rosulullah bergema
melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar.
Di senja itu pula, Mush’ab terpesona oleh untaian kalimat Rosulullah yang tepat
menemui sasaran kalbunya, sehingga ia memutuskan untuk memeluk agama yang
dibawa oleh Rosulullah saw. Sejak saat itu, ia meninggalkan kemewahan dan
kesenangan duniawai dan memilih hidup dalam kesederhanaan. Pemuda ganteng dan
pertele itu kini menjadi seorang yang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan
usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar. Tapi jiwanya yang telah
dihiasi dengan aqidah yang suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi telah
merubah dirinya menjadi pribadi yang baru, yaitu pribadi yang dihormati, penuh
wibawa dan disegani. Tak lama kemudian, Rosulullah pun memilihnya untuk
melakukan suatu tugas yang mulia saat itu. Ia menjadi duta atau utusan
Rosulullah ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk agama kepada orang-orang
anshar yang telah beriman. Di samping itu, ia juga
mengajak orang-orang lain untuk beribadah kepada Allah serta mempersiapkan kota
Madinah untuk menyambut hijrotul rosul sebagai peristiwa besar.
Mush’ab menjalankan amanah tersebut dengan bekal karunia Allah kepadanya
berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan
hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka
beuduyun-duyun masuk Islam. Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush'ab bin Umair telah membuktikan
bahwa pilihan Rosulullah saw atas dirinya itu pilihan yang tepat. Ia memahami tugas dengan
sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. la
sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah,
menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak
manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rosulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya
menyampaikan belaka.
Di Madinah Mush'ab
tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Dengan didampingi As'ad, ia
pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan,
untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Pernah ia
menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya,
yang nyaris membuatnya celaka. Namun, ia selamat karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwa yang dikaruniakan
Allah kepadanya.
Suatu hari,
ketika ia sedang memberikan taujih kepada masyarakat Madinah, tiba-tiba dipergoki oleh Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah
Abdul Asyhal di Madinah. Usaid
menodong Mush'ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya
Usaid, menyaksikan Mush'ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak
buahnya dari agama mereka. Melihat kedatangan dan sikap Usaid bin Hudlair
yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush'ab, mereka pun
merasa kecut dan takut. Tetapi "Mush'ab yang baik" tetap
tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid
berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zararah, bentaknya: "Apa maksud
kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami?
Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!". Seperti tenang dan
mantapnya samudera dalam, laksana terang
dan damainya cahaya fajar, terpancarlah
ketulusan hati "Mush'ab yang baik", dan bergeraklah lidahnya
mengeluarkan ucapan halus, katanya: "Kenapa anda tidak duduk dan
mendengarkan dulu? Seandainya anda
menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan
menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!". Sebenamya Usaid
seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush'ab
untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri, yang dimintanya hanyalah agar ia
bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan
Mush'ab, dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan
masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain,
dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain. "Sekarang saya insaf", ujar Usaid, lalu ia menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk
mendengarkan. Setelah Mush'ab membacakan
ayat-ayat Al-Quran dan menguraikan da'wah yang dibawa oleh
Muhammad bin Abdullah saw., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya,
beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada
shahabatnya: "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang baru dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?" Maka sebagai jawabannya, gemuruhlah suara tahlil serempak seakan hendak menggoncangkan bumi.
Kemudian ujar Mush'ab: "Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan
badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan
Allah".
Beberapa lama
Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan
pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa
Muhammad itu utusan Allah. Secepatnya
berita itu pun trsebar luas. Masuk Islamnya Usaid pun disusul oleh kehadiran
Sa'ad bin Mu'adz. Dan setelah mendengar uraian Mush'ab, Sa'ad merasa puas dan
masuk Islam pula. Langkah ini disusul pula oleh
Sa'ad bin 'Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah
persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling
berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka: "Jika Usaid bin Hudlair,
Sa'ad bin 'Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita
tunggu, ayolah kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata
orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celab giginya!".
Demikianlah
duta Rosulullah yang pertama (Mush’ab bin Umair) telah mencapai hasil gemilang yang
tiada tara, suatu keberhasilan yang
memang wajar dan layak diperolehnya. Beberapa ibroh yang dapat kita ambil dari kisah Mush’ab bin
Umair adalah:
- Mush’ab bin Umair berhasil melunakkan hati penduduk Madinah dengan berbekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur, juga sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati.
- Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Untuk menjalin hubungan yang baik dan keakraban dengan penduduk Madinah, ia didampingi oleh As’ad pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, dan membacakan ayat Al-Qur’an.
- Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri selama berada di negri orang (Madinah) yang nyaris membuatnya celaka. Namun, ia selamat karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwa yang Allah karuniakan kepadanya.
- Mush’ab bin Umair senantiasa berbicara dengan kata-kata yang baik dan bersikap dengan baik pula saat ia berada di negri orang (Madinah).
- Ia berhasil menyelesaikan selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah dengan masuknya Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin 'Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz ke dalam agama Islam.
***
Semoga setelah membaca kisah tadi, kita bisa meneladani sifat dan sikap Mush’ab
bin Umair saat berbaur dengan masyarakat Madinah agar dapat diaplikasikan dalam
menjalani hari-hari di daerah KKP masing-masing. Nah, teman-teman, ada dua
modal penting yang harus kita siapkan untuk menjalani KKP. Dua modal penting tersebut adalah kapasitas
keilmuan dan kemampuan komunikasi.
- Kapasitas keilmuan
Kapasitas
keilmuan yang kita miliki tidak hanya menunjukkan bahwa kita adalah orang yang
berilmu (intelek). Namun, kapasitas keilmuan tersebut hendaknya dapat
menjadikan kita sebagai problem solver dalam suatu desa tempat kita
melaksanakan KKP. Oleh karena itu, program-program yang akan kita laksanakan
dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
- Kemampuan komunikasi
Kemampuan berkomunikasi
yang baik perlu kita bangun dari sekarang, berbicara yang sopan dan tidak
terkesan menggurui. Komunikasi itu
ada dua yaitu komunikasi dengan Allah dan komunikasi dengan manusia. Komunikasi
dengan Allah dapat melatih kesabaran kita. Bila komunikasi dengan Allah telah
terjalin dengan baik, maka secara otomatis komunikasi kita dengan masyarakat akan baik pula. Perbanyak
ibadah di tempat KKP, memanfaatkan masjid untuk melaksanakan sholat 5 waktu,
dengan begitu kita bisa berkomunikasi lebih dekat dengan
masyarakat. Selain itu, kita juga perlu menjalin komunikasi yang baik dengan
masyarakat, seperti yang dilakukan mush’ab bin Umair yaitu dengan
bersilaturrahim ke rumah-rumah warga. Namun
yang perlu diingat adalah sebisa mungkin kita hindari
komunikasi tentang masalah-masalah yang sensitif yang dapat mengundang konflik
misalnya tentang masalah kepartaian atau masalah-masalah internal desa tersebut. Sebagai mahasiswa hendaknya berbicara tentang
masalah keilmuan, profesional, dan tidak mengundang konflik. Terakhir, sampaikan maksud dan tujuan
kedatangan kita dengan sikap yang baik. Berikan kesan pertama yang indah agar
kita dapat dipercaya oleh masyarakat sekitar.
Selamat ber-KKP.. KKP? Hadapi,
Hayati, Nikmati..!
0 komentar:
Posting Komentar