Jumat, 22 Juni 2012

Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya


Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..

Pernah mendengar tentang budaya intelektual kan? Yaa, budaya intelektual itu ada tiga yaitu membaca, menulis, dan berdiskusi. Membaca saja tidak cukup. Bacaan hanya melintas saja di pikiran kalau tidak benar-benar dipahami dan diambil pelajaran darinya. Jadi, untuk membuat bacaan bisa lebih tahan lama dan melekat dalam ingatan kita, maka perlu ada upaya untuk mengikat bacaan tadi dalam sebuah tulisan. Tulisan sesuai dengan gaya bahasa kita masing-masing agar mudah dipahami dan diingat.  

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..

Tulisan dapat menjadi arsip sejarah. Sejarah tentang perjalanan hidup kita. Saat kita senang, sedih, bertingkah konyol, galau, empaty, dll. Sejarah merupakan aset penting sebagai bahan evaluasi kita untuk menghadapi masa depan. Sejarah bisa saja diceritakan, namun kelemahannya adalah akan ada banyak bumbu-bumbu yang ditambahkan. Dengan menulisnya, maka sejarah akan dapat dibaca berulang-ulang bahkan oleh seseorang yang tidak hidup pada zaman terjadinya peristiwa tersebut.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..

Menuliskan harapan masa depan sejak saat ini, tidak ada salahnya bukan? Itu adalah cita-cita yang ingin kita capai. Sebuah perencanaan dalam jangka panjang yang ingin kita gapai. Sebuah angan-angan yang entah kapan kita bisa mewujudkannya. Sebuah pemikiran untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..

Susahnya mencari ide, itulah yang seringkali kita jumpai saat memulai untuk menulis. Ide seringkali datang secara tiba-tiba tanpa memberitahu kita. Nah, saat ide itu muncul, ikatlah.. tulislah diatas kertas, jangan diawang-awang. 

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..

Saat memulai untuk menulis, huruf-huruf itu menari di pikiran saya. Mencari-cari pasangannya secara tepat agar terbentuk kalimat yang sempurna. Menulis bagi orang yang sulit memahami makna kalimat secara utuh saat membaca, merupakan suatu tantangan yang tidak mudah. Sempat saya menyerah untuk menulis, karena begitu susahnya untuk memulai menulis. Huruf-huruf itu terus berputar di kepala saya. Tak menemukan padanan kata yang klop. Akhirnya, saya mulai membaca banyak tulisan, mengidentifikasi beberapa jenis tulisan, dan mencoba membuat suatu tulisan. Dan sekarang, saya ketagihan untuk menulis dan menulis. Jikalau ditanya, tulisan saya memang jauh dari sempurna, bahkan masih perlu banyak belajar dan berlatih agar tulisan saya layak untuk dipublikasikan.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..

Menulislah hal-hal yang bermanfaat. Hadirkan ruh kita saat membuat sebuah tulisan agar tulisan kita lebih hidup (meski saya belum bisa melakukan hal itu..:D). Menulis.. dan menulislah.. karena menulis merupakan perintah setelah membaca. Menulis dapat menjadi salah satu media untuk meyebarluaskan kebaikan tanpa mengenal batas dimensi tempat dan waktu. Menulislah untuk menaklukkan dunia seperti yang telah dilakukan para ulama dan tokoh-tokoh Islam terdahulu yang karya-karyanya mampu menggemparkan dunia. 

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..

Dalam sebuah buku dikatakan bahwa untuk menjadi seorang pemenang (penulis populer.red) tak selalu mendapat piala, uang, apalagi kekuasaan. Menjadi juara sejati adalah kesuksesan yang berawal dari proses panjang dan melelahkan. Kesuksesan sejati itu bukan kesuksesan yang bermanfaat bagi diri kita sendiri, namun apa yang kita hasilkan pun yang kita usahakan haruslah mermanfaat bagi orang lain. Setia dan menikmati setiap proses yang dilalui, mengambil manfaat dan senantiasa mengevaluasi pada apa yang dirasa kurang pas, bukan fokus pada pencapaian hasil. Berfikir positif tentang segala sesuatu yang kita hadapi, seringkali membuat segala sesuatu menjadi tak sesulit yang diduga oleh kebanyakan orang. Karena segala sesuatu itu bisa berubah “Sungguh akan kamu jalani tingkatan demi tingkatan dalam kehidupan” (Al Insyiqoq : 19). Dan kita bisa mengubah segala sesuatu itu (dalam konteks yang dapat dijangkau oleh kemapuan manusia), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka menggubah keadaan diri mereka sendiri” (Ar Ra’ad : 11). Nah sudah jelas kan? Apa yang diragukan lagi? 

Itulah pesan Ali bin Abi Tholib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..”

Mencobalah selama ada kesempatan,, menulislah –sesekali  tuangkan pikiranmu lewat tulisan.. karena dengan menulis, kamu bisa terbang tinggi, setinggi anganmu.. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

af-ida Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez